Etika Bisnis dalam Hari-Hari Produktif Kerja : Cobaan bagi Mereka yang Sadar

Karl Marx, Kredit Foto : Penulis

Oleh : Kevin Alfirdaus Arief


Mengapa hari Senin dan hari-hari kerja lain nya begitu mencekam? Anggapan tersebut bukanlah mitos belaka, sehingga banyak diantara kita yang masih menjadi mahasiswa berpikiran dapat bebas sebelum ke dunia kerja yang penuh dengan syarat dunia kerja. Namun, tahukah jika ada beberapa orang yang mereproduksi itu?

Membuat semuanya menjadi tampak sulit. Ada yang geram, ada pula yang iklas dan tabah hati. Dengan membaca artikel ini. kamu akan malas untuk jadi produktif. Semoga saja tidak.

Sebelum saya masuk, izinkan saya menggunakan istilah Geger Riyanto, Jam tidur sekitar pukul 10 malam sampai 5 pagi. Kemudian bekerja lagi sampai larut. Menurut Geger, dimana dimensi ideologis dan kelas sosial berubah menjadi sistem yang harus produktif kapanpun. Hal itu terlihat dari jam tidur ini tidak sepenuhnya dipahami karena syarat mutlak tersebut sudah dimatikan oleh sistem kapitalistik— yang memaksa para buruh untuk mengerjakan proses produksi yang merupakan syarat pekerja untuk mendapatkan upah dari pemilik modal [1].

Franz Kafka dalam karya yang satire berjudul ‘The Methamorphosis’, pernah menganalogikan seorang tokoh utama Gregor Samsa yang tiba-tiba bangun dari tidur panjangnya dan berubah bentuk menjadi seekor kecoa. Dari realisme magis tersebut, dapat diketahui bahwa manusia punya batasan untuk dalam melakukan sesuatu diluar jam produktifnya. Gregor yang menjadi seekor kecoa tersebut malah bersyukur dan melepaskan beberapa kehidupan murung dengan menjadi mahluk yang bermanfaat serta dapat telat bekerja pertama kalinya.

Hal tersebut bukan tanpa sebab. Pasalnya, manusia punya titik pemberontakannya masing-masing. Meskipun menjadi mahluk yang tidak bermanfaat sekalipun [2]. Dan dua pertanyaan yang paling sering muncul terkait itu adalah bagaimana kita berbuat? Kemana kita akan menuju?

Tidaklah cukup jika kita jika hanya memahami etika korporasi yang cenderung dalam genggaman elit-elit ekonomi yang sifatnya kapitalistik. Dalam hal ini, kurang lengkap rasanya untuk tidak membicarakan Marx seorang Filsuf Sosialis asal Jerman. Lewat karyanya sewaktu SMA, fenomena ini dikenal sebagai konsep ‘Alienasi’. Sebuah konsep milik Marx yang selanjutnya menggemparkan dunia.

Alienasi itu sendiri artinya keterasingan, yang mengandaikan jika manusia akan menemukan proses sejarah dimana ia merasa renta dan hampa dalam menjalani proses kehidupan. Hal tersebut ditandai dengan kemiskinan yang menjalar terhadap manusia, sontak ia mengukuhkan kembali pertanyaan yang seharusnya dapat dipahami, bagaimana manusia bisa miskin?

Apakah berjalan dengan sendirinya? Ataukah karena suatu proses sejarah yang membuat manusia menjadi pekerja?
Marx menyebutkan bahwa keadaan tersebut tercipta karena adanya relasi capital antar pemilik modal dan relasi upah dalam sistem borjuis. Terlebih praktik itu cenderung sangat eksploitatif-kapitalistik. Selain itu, Marx menyebutkan ada empat keadaan dimana buruh teralienasi dalam masyarakat borjuis. Pertama, manusia terasing teralienasi oleh hasil kerjanya. Sebab hal ihwal yang dikerjakan oleh manusia hanya menjadi objek asing yang memiliki kekuasaan atas dirinya. Selanjutnya, ia menjadi objek yang menandakan relasi antar bos dan juga karyawan / hubungan antar diperintah-memerintah.

Kedua, terasing dari aktivitas kerjanya, dimana aktivitasnya justru ‘ditujukan untuk melawan dirinya sendiri’. Seolah-olah aktivitas kerja nya karena keterpaksaan ekonomi yang membuat buruh harus rela mencurahkan tenaga kerjanya. Ketiga, manusia terasing dari dirinya sendiri sebagai manusia. Sebab manusia dalam lingkungan kerja kerap ditransformasikan menjadi ‘sesuatu yang keberadaannya asing baginya’. Kondisi ini bahkan kerap kali menyebabkan manusia pada akhirnya mengalami stress akut di lingkungan kerja.

Keempat, manusia terasing oleh manusia lain. Dan dalam hubungannya dengan ‘kerja mereka dan objek kerja’ yang menandakan jika situasi kerja dapat merubah kepribadian atau terlepas dari dirinya sendiri.

Pada 8 Mei ini, tepatnya 26 tahun yang lalu kasus pembunuhan Marsinah telah menjadi angin lalu yang terus menguatkan subjek kelas pekerja. Bagaimana tidak, perempuan berusia 27 tahun yang mati pada 1993 itu menurut laporan Tirto.id (8/5/19) berjuang untuk aspek-aspek normatif yang seharusnya diterima oleh para buruh tentang kenaikan upah, tunjangan cuit haid, uang makan, kenaikan uang transport, asuransi kesehatan bagi buruh yang seharusnya ditanggung perusahaan, tunjangan cuti hamil tepat waktu, THR minta satu bulan dengan gaji sesuai himbauan pemerintah, upah karyawan baru disamakan dengan upah karyawan yang sudah 1 tahun kerja, bubarkan SPSI, Pengusaha dilarang melakukan mutasi, intimidasi, dan PHK karyawan yang menuntut haknya [4].

Oleh keterasingan yang kapan saja diterima oleh para buruh, berharap kepada bos bukan lah solusi yang maksimal, dengan itu seharusnya semua pekerja berserikat dan menyamakan presepsi akan hak-hak pekerja yang seharusnya menjadi miliknya. Saya pun teringat oleh perkataan dosen saya Bapak Subagyo saat mengisi Diskusi Nusantara di Kafe Pustaka UM

“Buruh sadar tidak bisa berharap kepada siapapun. Buruh harus memperjuangkan dirinya sendiri. Harus mempersolid gerakannya untuk kesetaraan lainnya.”


***

*Penulis merupakan Mahasiswa Manajemen Universitas Negeri Malang.

Kepustakaan :

1.Geger Riyanto merupakan Mahasiswa Ph.D. Institut Antropologi Universitas Heidelberg. Baca esai-esai menariknya di Harian Indoprogress. Link akses : https://indoprogress.com/penulis/geger-riyanto/

2.Kafka, Franz. 1915. The Methamorphosis. Germain : Lipzig

3.Baca ulasan singkat terkait konsep alienasi manusia yang ditulis oleh Marcello Musto, seorang Professor bidang Teori Sosiologi di York University (Toronto) di kolom Harian Indoprogress. Link akses : https://indoprogress.com/2018/08/konsep-alienasi-keterasingan-dan-sejarahnya/

4.Baca laporan pembunuhan Marsinah di Tirto.id . Link akses : https://tirto.id/pembunuhan-buruh-marsinah-dan-riwayat-kekejian-aparat-orde-baru-cJSB

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.